Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in
assalamualaikum... maaf, blog ini telah pindah ke:http://samuderailmuagama.blogspot.com/
terima kasih

TEMPAYAN RETAK

Kamis, 24 Februari 2011

Dikisahkan ada seorang tukang air memiliki dua tempayan seramik ( gentong ) besar yang difungsikan untuk mengangkut air dari sumber mata air ke rumah majikannya. Masing-masing tempayan bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa dengan cara menyilang pada pundak si tukang air. Satu dari tempayan itu retak dan bocor, sedangkan tempayan yang satunya lagi bagus dan tidak bocor.Setiap kali si tukang air mengambil air dari sumbernya, kedua tempayan itu diisi penuh dan dipikul ke penampungan air di rumah majikannya, namun tempayan yang retak itu selalu isinya tinggal setengah ketika hendak dituangkan kedalam bak air. Sedangkan tempayan yang bagus isinya masih penuh sesuai dengan waktu pengambilan air. Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya setiap kali mengangkut air. Tentu saja si tempayan yang bagus merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Berbeda dengan si tempayan retak merasa malu akan kekurangannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya bisa ia berikan.
Setelah dua tahun tertekan oleh masalah itu, tempayan retak mulai minder, apalagi sering dilecehkan oleh tempayan yang bagus. Tempayan retak merasa malu, lalu ia berkata kepada si tukang air, “aku sungguh malu pada diriku sendiri, dan aku ingin mohon maaf kepadamu”. “Kenapa?” tanya si tukang air. “Kenapa kamu merasa malu?”. Selama dua tahun ini, aku hanya mampu membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat kubawa. Karena kekuranganku selama ini, telah membuatmu rugi,” kata tempayan retak itu. Aku juga tidak mau menjadi bahan tertawaan sahabatku si tempayan yang bagus, ketidak sempurnaanku menjadi bahan celaan buat dia. Mulai besok aku mau berhenti mengangkut air, karena memang aku tidak mampu, pinta tempayan retak kepada tukang air.
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, ” besok kita akan mengambil air lagi, aku ingin kamu memperhatikan sepanjang jalan yang kita lalui dari sisimu berada dan sisi si tempayan bagus, kata tukang air.
Besok harinya, ketika membawa air dari sumbernya, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Sementara itu di sisi sahabatnya tempayan yang bagus sepanjang jalan kelihatan gersang. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu?” Tempayan retak menjawab: ” iya aku lihat, tapi apa hubungannya dengan masalahku? tanya tempayan retak. Begini maksudku, dari dulu aku menyadari akan kondisimu yang kamu anggap sebagai kekuranganmu. Aku justru melihat itulah kelebihanmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menabur benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu menyirami benih-benih tersebut tanpa kamu sadari.Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa keberadaanmu dan retak yang kamu anggap sebagai kekuranganmu, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya dengan bunga-bunga seindah sekarang.” Kamu tidak memahami dan tidak menyadari bahwa apa yang kamu anggap sebagai kelemahanmu, justru adalah kelebihanmu. Kamu telah menciptakan potensi kehidupan baru yang sangat berguna, sedangkan tempayan bagus, dia memang produktif dalam melaksanakan tugasnya, tapi kamu lihat di sepanjang jalan di wilayah dia, tanahnya tetap gersang tanpa bunga2 yang indah.”

Lebih lanjut tentang: Kisah Tempayan Retak


PERAYAAN HUT IPST YANG KE -43

Minggu, 20 Februari 2011


it is a nice day in parabek....



Kira-kira kalimat di atas cukup sesuai untuk mengambarkan hari itu. Ya, di hari minggu (20/11/2011) yang cerah itu, IPST (Ikatan Pelajar Sumatera Thawalib) menggelar hari ulang tahunnya yang ke -43. acara ini seperti biasa digelar di kampus madrasah sumatera thawalib. Adapun acara yang digelar diantaranya adalah :

Untuk tingkat SD : lomba cerdas cermat dan kaligrafi.
Untuk tingkat Tsanawiyah/ SMP sederajat : lomba bidang studi MIPA Terpadu(Sains and Math Competition / SMACOM) dan English Speech Contest (Pidato Bahasa Inggris).

Salah satu tujuan diadakannya Hut IPST ini adalah untuk mengikat tali silaturahmi antara peserta lomba dan offisialnya dengan keluarga besar Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Dengan demikian , MST Parabek terasa kian lebih bersahabat dengan dunia luar. “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka ta’aruf” ucap Muhammamad Rizqi Eka Putra –ketua umum penyelenggara HUT IPST- di saat memberi sambutan pada pembukaan acara .

Acara ini secara resmi dibuka oleh kepala madrasah aliyah, Ustadz Drs Zulfahmi . dalam sambutannya, beliau mengungkapkan bahwa MST parabek juga mengadakan acara OPEN HOUSE, jadi , para peserta bisa melihat sarana-sarana belajar yang ada di Madrasah Sumatera Thawalib seperti labor computer, internet, pustaka dan lain sebagainya.


Salah satu yang menarik perhatian penulis ada di cabang lomba kaligrafi. Seorang anak penyandang cacat juga ikut dalam kompetisi membuat kaligrafi. Hal ini tentu menggugah setipa hati yang melihatnya. Meski cacat, beliau tetap berkarya, mengikuti kompetisi, dan mempersembahkan yang terbaik



Demikianlah liputan singkat acara HUT IPST yang ke-43 ini. Jika diperhatikan, liputan ini belumlah sempurna, karena masih banyak kekurangan yang ditemukan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penulis dambakan untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Penulis dapat dihubungi di :http//aqil-rabbani.blogspot.com atau melalui facebook dengan e-mail:aqil_rabbani@yahoo.com.


MENELADANI NABI MUHMMAD SAW

Jumat, 18 Februari 2011

” Laqad kana fi rasulillah uswatun hasanatun liman kana yarju Allaha wa al-yauma al-akhir “ QS. Al-Ahzab ayat 21

Artinya “. Sesungguhnya telah ada pada diri rasulullah iu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu)bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. QS. Al-Ahzab ayat 21

Ayat tersebut sudah jelas bahwa rasulullah adalah merupakan teladan bagi seluruh umat mansia, dalam seluruh aspek kehidupan, sejak dari berumah tangga hingga kehidupan berumah tangga dan politik.

1.Rasulullah sangat mencintai keluarganya , sebagaimana belia bersabda ” bahwa sebaik-baik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya “. khairukum khairukum li ahlihi.
2.Rasulullah sangat mencintai ilmu pengetahuan, thalabu al-ilmi faridhatun ala kulli muslimin wa muslimatin. Konsekwensinya adalah bahwa orang Islam harus lebih pandai dan lebih profesional dalam menguasai sant maupun teknologi, hal seperti ini jelas mernjadi PR berat bagi para orang tua, sebab memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk membiayai anak agar menguasai teknologi. Bagi seorang anak harusa tahu diri, jangan terlalu banyak hura-hura kalau perlu harus banyak berprihatin karena orang tua sudah bersusah payah mencari rizki untuk biaya hidup serta biaya pendidikan yang tidak murah.
3.Rasulullah sangat menyayangi umatnya, hal ini terbutkti dengan wasiayt beliau yaitu “ ummaty ummaty ummaty “. Bahwa rasulullah sangat menginginkan keselamatan dan kesejaheraan umatnya agar bisa sejahtera di dunia dan sejahtera di akhirat.
4.Rasulullah sangat memperhatikan anak yatim “ana ma’a kafil al-yatim fi al-jannah “. “Aku akan menyertai orang yang menanggung anak yatim di sorga. Kalau kita renungkan beberapa ayat Al-Qur’an surta Al-Fajr, bahwa kelompok perama ayat-ayat dalam surat al-Fajr tersebut menjelaskan tentang bagaimana keunggulan dan kejayaan bnagsa Iram, Bangsa Ad, Bangsa Tsamud. Namun pada akhirnya bangsa-bangsa yang jaya tersebut di binasakan oleh Allah SWT. Kemudian pada bagian akhir ayat-ayat pada surat al-Fajr tersebut mengungkap tentang anak-anak yatim serta orang-orang miskin. Barangkali kita bisa mengambil sebuah amsal atau analogi dari Al-Qur’an surat Al-Fajr tersebut, yaitu bahwa bangsa Indonesia memiliki banyak kalangan masyarakat konglomerat atau menengah keatas, bahkan ada orang yang mendapat rangking termasuk orang terkaya didunia, namun ada pula yang sangat miskin sekali.
SUMBER:http://ichsan231.wordpress.com/2007/04/13/meneladani-nabi-muhammad-saw/

Republika OnLine » Dunia Islam » Mualaf David Saphiro: Hanya Islam, Agama yang Dinamai Langsung oleh tUHAN

Kamis, 17 Februari 2011

Michael David Saphiro


REPUBLIKA.CO.ID, Secara etnis, Michael David Saphiro adalah keturunan Yahudi Rusia. Perjalanannya mencari Tuhan sudah dimulai sejak ia berusia 19 tahun. Ia mengaku pada masa itu ia membatasi dirinya dengan logika Sains. "Ya, saya dicuci otak dengan itu," ungkapnya.

Keyakinan Saphiro terhadap Tuhan tidak pasti. Tujuan hidupnya saat itu ialah menjadi bintang rock terkenal. "Saya tinggal di sebuah apartemen di Pasadena dan bekerja sebagai sekretaris. Memang menggelikan saya tahu," tuturnya.

Suatu malam ia pergi ke dapur dan berpapasan dengan temannya berkulit hitam. "Saya masih ingat bertanya padanya, 'Bisakah saya simpan vodka ini dalam kulkas malam ini?'. Kami berjabat tangan kemudian pergi tidur. Tapi justru setelah itu hidup saya berubah drastis," kata Saphiro.

Si teman kulit hitam tadi, seorang Muslim, adalah Muslim pertama yang pernah dikenal Saphiro. Didorong rasa ingin tahu luar biasa, Saphiro mengajak si teman mengobrol tentang keyakinannya. "Saya penasaran, apa itu, saya dengar tentang beribadah 5 kali sehari, juga tentang perang suci. Siapakah itu lelaki yang bernama Muhammad?" tuturnya.

Saat mengobrol ia ditemani oleh teman sekamarnya, penganut Kristiani, Wade. "Bertiga kami melakukan sesi dialog antara Yahudi, Kristen dan Muslim. Dalam obrolan itu kami menemukan banyak perbedaan sekaligus banyak persamaan," kata Saphiro.

Ketertarikan Shaphiro bergeser, yang semua berkutat seputar seks, obat-obatan dan pesta, ke pencarian serius terhadap kebenaran. Sebuah pencarianya yang menurut dia harus diselesaikan menyeluruh. "Ini pencarian terhadap Tuhan dan pencarian bagaimana untuk mengikuti-Nya," ungkap Saphiro.

Dalam perncarian itu Shapiro bertanya pada dirinya, "Oke mulai dari yang sederhana, beberapa Tuhan yang kamu pikir ada di luar sana?". Saat itu ia meyakini hanya satu.

"Tuhan yang lebih dari satu, terbagi-bagi tentu lebih lemah dari pada hanya satu Tuhan. Saya berpikir, bagaimana bila satu Tuhan tidak sepakat dengan Tuhan lain, pasti ada argumen dan pertikaian. Maka, satu tuhan adalah pilihan sadar saya," imbuhnya.

Begitu ia membuka pikiran terhadap kemungkinan keberadaan Tuhan ia mulai menganalisa berbagai macam keyakinan, mulai atheis hingga theisme. "Sesuatu yang mengarahkan saya kepada pilihan kedua adalah sebuah kutipan, 'Setiap desain memiliki desainer. Dengan kalimat itu dalam benak, akhirnya saya selalu bangun dan sadar bahwa Tuhan ada. Saya tidak dapat menjelaskan mengapa. Saya hanya merasa seperti itu."

Penemuan baru itu menimbulkan kegairah dalam diri Saphiro. Saat itu pula ia mengaku muncul rasa tanggung jawab untuk mengikuti kehendak Sang Pencipta. "Langkah berikut saya adalah memasuki dunia agama," ungkapnya.

Kembali Saphiro menanyai dirinya sendiri. "Di mana saya harus memulai. Kenyataannya ada ribuan di luar saya. Saya mesti mengeliminasi dan menyempitkan kepada sedikit pilihan," tuturnya. Awalnya ia pun bertanya bagaimana melakukan hal itu.

"Saat itu ada pemahaman yang masuk dalam benak saya, 'temukan agama yang bersifat monotheis'. Saya pikir, bukankah itu masuk akal karena saya percaya hanya ada satu Tuhan."

Ia pun melewati Budhaisme dan Hinduisme karena ia menganggap keyakinan tersebut politeisme. Sementara agama utama yang saat itu ia pandang memiliki pandangan Monotheis adalah Yahudi, Kristen dan Islam. "Karena saya keturunan Yahudi, saya pun memulai dengan Yudaisme. Satu Tuhan, nabi yang sama, 10 perintah, Taurat dan jiwa Yahudi.

Saat melakukan pendalaman ada gagasan dalam Yudaisme yang mengganggunya. Gagasan itu berbunyi 'Jika seseorang terlahir sebagai Yahudi, maka ia memiliki jiwa Yahudi dan mereka harus mengikuti Yudaisme. "Tunggu dulu, di bagian itu saya merasa itu ide diskriminasi. Bukan sesuatu yang universal,"

"Jadi apakah benar Tuhan membuat jiwa Yahudi, jiwa Kristen, jiwa Hindu atau jiwa Hindu? Saya pikir semua orang diciptakan sederajat. Jadi apakah karena seseorang terlahir dalam agama itu berarti derajat Tuhan tetap di sana meski si penganut melakukan kesalahan. Saya tidak sepakat dengan itu," tutur Saphiro.

Satu lagi yang mengganggu Saphiro adalah tidak ada konsep ketat mengenai neraka dalam Yudaisme. "Mengapa harus baik? mengapa itu bukan dosa? Saya tidak punya rasa takut terhadap hukuman, lalu mengapa saya harus menjaga moral?"

Usai mendalami Yudaisme, ia menuju pemahaman Kristen. Lagi-lagi ia terganggu dengan konsep trinitas, satu tuhan, satu bapa, satu anak dan ruh kudus. "Aduh tolong jelaskan bagaimana semua ini bisa menjadi satu Tuhan. Jadi bagaimana anda dapat meyakini hanya satu Tuhan bila yang ada pembagian seperti ini,"

Penjelasan demi penjelasan, pertanyaan demi pertanyaan, perbandingan demi perbandingan, analogi dan sebagainya tak mampu membuat Saphiro memahami konsep trinitas.

Hingga ia pun memasuki perjalanan berikut, mengkaji Islam. Islam berarti penyerahan diri. Keyakinan utama yang dipahami Saphiro dalam Islam adalah satu Tuhan, beribadah kepda Tuhan lima kali sehari, mewajibkan memberi 2,5 persen dari harta setiap tahun sebagai zakat, berpuasa saat Ramadhan--demi membuat seseorang lebih dekat kepada Tuhan dan menghargai sesama manusia dan kelima melakukan perjalanan ke Mekkah untuk menunaikan haji bagi yang mampu.

Sejauh itu Saphiro tidak menemukan sesuatu yang sulit untuk dipahami. "Tidak ada sesuatu yang bertentangan dengan logika saya di sini," ungkapnya.

Al Quran, sejauh yang ia tahu saat itu adalah kitab dengan kebijakan tanpa batasan waktu dan kisah-kisah penuh keajaiban yang menarik. "Banyak fakta ilmiah yang baru terungkap saat ini telah dinyatakan 1400 tahun sebelumnya dalam buku ini," ujarnya.

"Saat itu Islam telah melewati pertanyaan awal saya tentang agama satu tuhan. Namun saya ingin tahu lebih lanjut apakah agama ini universal? Apakah ia sejalan dengan sains? Saya menemukan banyak ayat di Al Qur'an yang berada di satu koridor dengan ilmu pengetahuan dan teknologi," tutur Saphiro.

Semakin banyak Saphiro menemukan fakta-fata yang ia nilai logis saat mengkaji agama tersebut, ada satu hal yang mulai sangat menarik perhatiannya yakni nama "Islam" itu sendiri. "Ini nama dari agama ini, saya menemukan ia ditulis berulang kali dalam Al Qur'an".

Ia pun mengingat riset yang ia lakukan sebelumnya. "Saya tidak mengingat satu pun kata 'Yudaisme' dalam perjanjian lama atau 'Kristiani' dalam Perjanjian Baru. Ini adalah hal besar," ujarnya.

Ia menyadari mengapa tak bisa menemukan nama sebenarnya agama tersebut di dalam kedua kitab tadi, karena memang tidak ada nama dalam kitab-kitab tersebut. Ia pun memahami Yudaisme merupkan bentukan kata Yuda-isme dan Kristiani tentu berasal dari "Kristus dan pengikutnya"

"Jadi inikah Yuda? atau Judah?" tanya Saphiro pada diriny. Nama itu sejauh yang diketahui Saphiro adalah pemimpin suku Hebrews ketika Tuhan menurunkan firmannya kepada manusia. "Jadi apa mungkin agama dinamai nama orang?" ujarnya.

Begitu pula ketika ia berpikir tentang Kristiani, yang berasal dari nama Yesus Kristus. "Apa mungkin kita dapat mendeduksi nama agama dari orang-orang dengan melekatkan isme dan -anity," ungkap Saphiro. Terlebih lagi nama-nama tersebut tidak diungkap dalam kitab mereka, inilah yang membuat ia berpikir itu sangat aneh.

"Coba jika saya berjualan dan saya berkata "Apakah kamu mau membeli ini_______? Tentu orang akan bertanya, Apa ini_____namanya? Tentu saya tidak akan bisa menjual sebuah barang tanpa sebuah nama,"

Saat itu Saphiro meyakini nama adalah hal mendasar di mana manusia bisa mengidentifikasi objek, baik fisik maupun non fisik. "Jika agama harus dipraktekan dan disebarkan kepada setiap manusia di muka bumi, bukankah seharusnya ia memiliki nama?

Ia juga menekankan, nama itu seharusnya diberikan langsung oleh Tuhan, bukan bentukan manusia. "Ya itulah maksud saya. Nama Kristiani dan Yudaisme tidak tertulis dalam kitab suci mereka. Manusia yang menamainya, bukan Tuhan," kata Saphiro menyimpulkan.

"Gagasan bahwa Tuhan menghendaki sebuah agama diikuti oleh manusia tanpa memberi nama, sangat mustahil bagi otak saya untuk menerima," ujarnya. "Di titik itu, baik Kristen dan Yahudi kehilangan kredibilitas murni dalam logika dan agama sepenuhnya, setidaknya itu dalam prespektif saya," papar Saphiro.

Ia menemukan Islam adalah satu-satunya agama yang mengusung nama asli agama dalam kitab sucinya. "Itu bermakna besar bagi saya," ungkap Saphiro. "Saya menyadari saya akan mengikuti Islam, lalu saya pun menjadi Muslim. Saya menemukan kebenaran dan saya merasa keluar dari kegelapan menuju cahaya."

Memperingati Maulid Nabi SAW

Senin, 14 Februari 2011

Oleh : H. Mas’oed Abidin

SUMBER:http://hmasoed.wordpress.com/2009/02/25/memperingati-maulid-nabi-saw/
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan kepada segenap ummat manusia, sebagai pembawa berita dan pemberi peringatan. Tetapi kebanyakan manusia tidak rnengetahui.” (Q.S. Saba’: 28)
NAPAK TILAS SEJARAH KEHIDUPAN RASULULLAH ATAU SIRAH NABAWIYAH.


“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaum-mu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Q.S. At Taubah:. 28)
Muhammad Rasulullah saw. dilahirkan di tengah-tengah keluarga Bani Hasyim di Makkah el Mukarramah di bulan Rabi’ul Awwal (musim bunga), pada hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal permulaan tahun dalam peristiwa gajah (al fiil); bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April tahun 571 M, dan empat puluh tahun setelah berkuasanya Kisra Anusyirwan di Parsi.
Saat itu, yang menjadi bidan untuk merawatnya adalah Siti Syifa’, ibu dari sahabat Abdurrahman bin ‘Auf R.Anhu.
Beliau lahir nama beliau Muhammad (yang terpuji), ayahnya Abdullah (hamba Allah), ibunya Aminah (yang memberi rasa aman), kakeknya dipanggil Abdul Muthallib yang namanya adalah Syaibah (orang tua yang bijaksana), sedangkan yang membantu ibunya melahirkan bernama Asy-Syifa’ (yang sempurna dan sehat), serta yang menyusukannya adalah Halimah As-Sa’diyah (yang lapang dada dan mujur). Semua nama-nama itu, sungguh telah mengisyaratkan keistimewaan berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW yang dipilihkan oleh Allah Azza wa Jalla.
Makna nama-nama tersebut menurut para Ulama memiliki kaitan yang erat dengan keperibadian Nabi Muhammad SAW. Walaupun ada juga sebagian ulama tarikh yang berpendapat bahwa beliau lahir pada subuh pagi Senin tanggal 9 Rabi’ul Awwal tahun Fil pertama, sebagaimana pentahkikan yang dilakukan para ahli astronomi dan ulama falak, seperti Syeikh Mahmud Fasya al Falaky, Muhammad Sulaiman Al Manshurfury dan Mahmud Basya. (Untuk lebih lanjut ada baiknya dilihat juga Kitab Ar Rahiq Al Makhtum karya Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury dan buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW, yang ditulis oleh K.H. Moenawar Chalil).
MASA REMAJA DAN DEWASA
Pada awal masa remajanya, Rasulullah SAW biasa mengembala kambing di kalangan Bani Sa’ad. Pada usia dua puluh lima tahun, seorang saudagar kaya bernama Khadijah binti Khuwaylid al As’ad telah mendengar tentang kejujuran, kredibilitas dan kemuliaan akhlaq Muhammad. Siti Khadijah telah mengirim utusan kepada pemuda Muhammad bin Abdullah dan menawarkan kepadanya agar berkenan berangkat ke Syam untuk menjalankan barang dagangannya.
Beliau menerima tawaran itu, dan kemudioan berangkat ke Syam membawa barang dagangan Khadijah binti Khuwaylid dengan disertai Maisarah.
Dua bulan sepulang beliau dari negeri Syam, dengan tawaran Khadijah melalui sahabatnya Nafisah binti Munyah, Muhammad SAW menikah dengan Siti Khadijah, dengan maharnya menurut setengah riwayat dua puluh ekor onta muda.
Semua putra-putri beliau, dilahirkan dari rahim Siti Khadijah r.a., adalah Al-Qasim, kemudian Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah dan Abdullah yang bergelar Ath-Thayyib dan Ath-Thair. Semua putra beliau meninggal dunia selagi masih kecil. Sedangkan semua putri beliau sempat menjumpai Islam, dan mereka masuk Islam serta ikut hijrah. Hanya saja mereka semua meninggal dunia selagi Rasulullah SAW masih hidup, kecuali Fathimah. Fathimah meninggal dunia selang enam bulan sepeninggalan beliau.
Ada juga anak Rasulullah SAW bernama Ibrahim yang lahir dari isteri beliau Maria Al Qibthiyah, seorang isteri yang beliau terima dan nikahi sebagai tanda persahabatan dengan Muqauqis dari Mesir, ketika Muhammad telah diangkat menjadi Rasulullah SAW.
NUBUWWAH DAN RISALAH SERTA PERINTAH DAKWAH
Di saat Umur Rasulullah SAW genap empat puluh tahun, suatu awal kematangan, mulailah tampak-tampak tanda-tanda nubuwwah pada diri beliau. Di antara tanda-tanda itu adalah mimpi hakiki. Selama enam bulan mimpi yang beliau alami itu hanya menyerupai fajar subuh yang menyingsing. Mimpi ini termasuk salah satu bagian dari empat puluh enam bagian dari nubuwwah.
Akhirnya pada bulan Ramadhan pada tahun ketiga dari masa pengasingan di gua Hira, Allah berkehendak untuk melimpahkan rahmat-Nya kepada penghuni bumi, memuliakan beliau dengan nubuwwah dan menurunkan Malaikat Jibril kepada beliau sambil membawa ayat-ayat Al Qur’an (Al ‘Alaq: 1- 5). Hal ini juga disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitabnya Fathul Bary.
Kemudian turunlah wahyu Ilahi yang memuat pesan-pesan untuk melaksanakan Dakwah kepada Allah SWT, seperti dalam surat Al Muddatstsir ayat 1-7.
Sungguh dalam makna terkandung dalam ayat ini. Di antaranya, memberi peringatan agar tidak melanggar apa yang telah diperintahkan atau telah dilarang oleh Allah SWT, sebab akan berakibat ditimpa azab yang sangat pedih dan dahsyat. Perintah untuk mengagungkan Rabb, Allah SWT Yang Maha Agung. Mengingatkan agar menjauhi sikap sombong, yang dapat menyeretnya ke dalam kehancuran dan murka Allah. Memerintahkan membersihkan pakaian dan meninggalkan perbuatan dosa, agar kesucian lahir batin benar-benar tercapai, sehingga mendapatkan pancaran cahaya Ilahi yang penuh dengan hidayah Allah SWT. Menggerakkan Dakwah dan amal Islamiyah dengan selalu sabar dan tabah, serta terus meminta pertolongan dan perlindungan serta memohon hidayah, taufiq dan ridho-Nya.
Setelah mendapatkan perintah ini, Rasulullah SAW bangkit dan setelah itu, selama dua puluh lima tahun beliau tidak pernah istirahat dan diam. Beliau tidak pernah mengeluh apalagi berputus asa dalam melaksanakan misi dakwah ini.
WAFATNYA RASULULLAH SAW.
Pada detik-detik terakhir dari hidup Rasulullah SAW, beliau masih sempat bersiwak yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Abu Bakar. Di dekat pembaringan beliau ada bejana berisi air. Beliau mencelupkan kedua tangan berisi air lalu mengusapkannya ke wajah sambil bersabda, “Tiada Tuhan selain Allah. Sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya.”
Seusai bersiwak, beliau mengangkat tangan atau jari-jari, mengarahkan pandangan ke arah langit-langit rumah dan bibir beliau bergerak-gerak. Sayyidah Aisyah masih sempat mendengar sabda beliau pada saat itu. Beliau bersabda, “bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Sholihin. Ya Allah, ampunilah dosaku, dan rahmatilah aku. Pertemukanlah aku dengan kekasih Yang Maha Tinggi, Ya Allah, kekasih Yang Maha Tinggi.”
Kalimat yang terakhir ini diulangi hingga tiga kali yang disusul dengan tangan beliau yang melemah. “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’uun.” Beliau telah berpulang kepada kekasih Yang Maha Tinggi.
Hal ini terjadi selagi waktu dhuha sudah terasa panas, pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal 11 H, dalam usia enam puluh tiga tahun lebih empat hari.
TRADISI PERINGATAN MAULID NABI SAW
Tradisi perayaan Mulid seperti yang diselenggarakan di hampir semua masyarakat muslim sekarang ini bukanlah satu warisan yang ditinggalkan oleh Muhammad SAW atau suatu yang diperintahkan beliau pada hayatnya Muhammad SAW. Peringatan seperti ini, adalah keputusan bijaksana yang ditetapkan Sultan Shalahuddin al Ayyubi yang memerintah Mesir dan Syiria pada tahun-tahun 564 – 589 M/1169-1193 H.
Berbagai pendapat telah berkembang tentang kebolehan, keutamaan, dan hikmah, bahkan penolakan, terhadap diadakannya peringatan Maulid Nabi SAW ini.
Di antara yang menolak, terdapat pada kitab Al-Bida’ Al-Hauliyah wa Fatwa Tata’allaq bil Maulid an-Nabawi, Darul Fadhilah, Riyadh, 1421H – 2000M, yang ditulis oleh Abdullah bin Abdul Azis at-Tuwaijiry dan Dakhilullah bin Bakhil Al-Mathrafi. Buku ini telah terbit dalam edisi Indonesia berjudul, « Adakah Maulid Nabi SAW », Darul Falah, Jakarta, Cet-1, Syawal 1426 H/Nopember 2005 M. Buku kecil 172 halaman ini, dilengkapi dengan Fatwa-fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu-Asysyaikh,Syakh Abdul Azis bin Abdullah bin Baaz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, dan pendapat dari Al-Lajnah Ad-Daaimah Saudi Arabia masa ini.
Menurut buku kecil ini, peringatan Maulid SAW dikategorikan suatu bid’ah. Mula sekali yang mengadakan bid’ah ini, adalah Bani Ubaid Al-Qadah dari kelompok Fathimiyah, sebagaimana juga ditulis di dalam kitab Ahsan Al-Kalam hal.44, Al-Ittida’, hal.251, Taarkh Al-Ihtifal Al-Maulid An-Nabi, hal.62, dan kitab lainnya. Wallahu’alamu bis-shawaab.
Ada hal terpenting dalam suasana peringatan Maulid Nabi, yaitu menanamkan pada diri anak-anak kecintaan kepada Nahi saw. Sehingga suri tauladan kehidupan yang beliau contohkan dapat terserap dalam pikiran mereka. Begitu pula halnya sejarah tauladan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhurn. Maka tentulah diperlukan bahan bacaan sebagai referensi dalam mengajarkan nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah dan Sunnah Rasulullah saw. Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa dua pusaka abadi yang beliau wariskan kepada ummatnya adalah Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.
Tradisi memperingati Maulid Nabi semestinya dirakit menjadi sebuah tradisi Islami yang sangat bermanfaat bagi kaum muslimin. Dalam acara-acara peringatan Maulid Nabi dapat didengarkan dan dihayati segala hal yang disampaikan oleh para penceramah tentang suri tauladan dalam kehidupan Rasulullah saw.
Bagi kita, memperingati Maulid (kelahiran) Muhammad Rasulullah SAW, bermakna secara sadar menelusuri pekerti agung dari seorang terpilih. Jelas nasabnya, jujur, amanah, baik pekertinya, serta penyantun dan pemaaf (pengakuan Ja’far bin Abi Thalib dihadapan Raja Najasyi), sebagai uswah hasanah (suri teladan baik), bagi setiap mukmin yang percaya kepada Allah dan hari akhir (QS.33,al-Ahzab:21). Karena, dia diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (QS.21,al-Anbiya’:107). Muhammad SAW, adalah seorang yang istimewa.
Dia adalah Rasul Allah, pilihan diantara banyak rasul sebelumnya (QS.3,Ali Imran:144). Bahkan, menjadi penutup Nabi-Nabi (QS.33,al-Ahzab:40).
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah SAW itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu)bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangannya) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allalt (zikrullah). (Q.S. Al Ahzab: 21)
Makna hakiki dari memperingati Maulid Nabi SAW haruslah diinsyafi bukan sekedar seremonial keagamaan semata, namun hendaklah ditujukan kearah intropeksi total diri sendiri, guna meningkatkan kualitas hidup beragama, beribadah, dan bermasyarakat.
REFLEKSI PERINGATAN MAULID SEBAGAI UPAYA MENELADANI RASULULLAH SAW
Salah satu refleksi peringatan maulid adalah mengambil keteladanan Nabi Muhammad SAW yang telah mengeluarkan ummat manusia dan lembah kemiskinan harta, kemiskinan ilmu, kemelaratan mental (akhlak) maupun spritual (hakekat uluhiyah dan rububiyah).
Muhammad SAW mengentaskan ummat dari kemiskinan harta dengan memacu kepada usaha individu dengan memberi bibit untuk ditanam bukan menyediakan nasi untuk dimakan. Petunjuk yang tersirat dalam beberapa sabda Rasulullah SAW. Di antaranya: Bekerjalah kamu untuk duniamu seakan-akan-akan hidup selamanya dan berusahalah kamu untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati esok hari. (H.R. Ibnu ‘Asakir)
Dalam kehidupannya Rasulullah telah memberi contoh. Beliau SAW tidak pernah menolak pengemis yang datang ke rumahnya. Bahkan sering para pengemis diberi bibit kurma untuk ditanam sehingga sang pengemis dapat memberi makan anak cucunya. Rasulullah SAW sangat menghargai makna sebuah kerja. Etos kerja Islam merupakan manifestasi kepercayaan muslim yang memiliki kaitan dengan tujuan hidup yang hakiki, yaitu ridha Allah SWT dalam meraih prestasi di Dunia dan Akhirat.
Nabi Muhammad SAW mendorong ummat agar tidak miskin ilmu. Beberapa pesan Rasulullah SAW mengingatkan, “Barangsiapa yang menginginkan dunia haruslah dengan ilmu, dan barang siapa yajig menginginkan akhirat haruslah dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kedua-keduanya haruslah dengan ilmu”. (H.R. Murrafaqun ‘Alaih).
Di atas semua itu, dengan ilmu yang diredhai Allah maka seseorang dianggap sebagai pewaris Nabi, dan dengan ilmu kebahagiaan di dunia akhirat dapat di raih.
Nabi Muhammad Saw mendorong agar manusia tidak menjadi miskin mental. Apabila jiwa atau mental sehat, dengan sendirinya akan memancar bayangan kesehatan itu pada perilaku kehidupan sehari-hari. Risalah Islamiyah adalah suatu anugerah bagi ummat manusia.
Nabi Muhammad SAW telah berhasil membawa masyarakat jahiliyah yang miskin mental menjadi masyarakat yang luhur, berakhlak. memiliki sopan santun dan tata krama dalam pergaulan dan penuh peradaban, dengan menghidupkan empat sikap utama.
Pertama, Syaja‘ah artinya berani pada kebenaran dan takut pada kesalahan dan dosa. Selanjutnya, Iffah artinya pandai menjaga kehormatan diri lahiriah dan batiniyah. Kemudian, Hikmah artinya tahu rahasia diri dan pengalaman hidup, dan terakhir adalah ‘Adalah artinya adil walaupun pada diri sendiri.
Muhammad SAW adalah figur teladan yang diidolakan kaum muslimin. Setiap langkahnya yang selalu dibawah kontrol Ilahi adalah mutiara berharga, menjadi landasan perhitungan akhlak bagi ummatnya, untuk berbuat dan juga merupakan hukum yang ditaati.
Tiada seorangpun yang dapat meragukan keagungan peribadi Rasulullah SAW. Keperibadian yang dijadikan contoh teladan dalam segala hal.
Rasulullah sebagai seorang suami yang teladan, sebagai ayah teladan, sebagai guru teladan, sebagai tokoh teladan, sebagai abli strategi teladan, sebagai ahli ekonomi teladan, sebagai pejuang hak-bak asasi manusia teladan, dan sebagai kepala negara yang teladan.
Keteladanan yang mampu mengubah situasi dan kondisi masyarakat. Keteladanan yang mampu mereformasi sistem dan tatanan yang ada, ke arah yang lebih baik dan tujuan yang mulia, yakni baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur (negeri yanq makmur dan penuh ampunan Tuhan).
Nilai-nilai keteladanan tersebut hendaknya menjadi warisan yang paling berharga bagi kita ummat manusia, tanpa terkecuali. Setiap langkah yang kita ayunkan, setiap nawaitu yang kita bulatkan, setiap pernyataan yang kita ikrarkan dan setiap perbuatan yang kita lakukan merupakan cerminan dan keteladanan RasululIah saw. yang mesti diterapkan dalam kehidupan.
Maka dalam upaya mengikuti ajaran beliau, setidaknya salah satu dan sifat beliau ada dalam diri seorang muslim. Dan di antara sifat mulia yang beliau miliki adalah sifat shidiq. Karena sifat shidiq ini, Rasulullah SAW. diberi gelar Al Amin (orang yang dapat dipercaya). Shidiq (as shidqu) artinya benar atau jujur, lawan dan dusta atau bohong (al kidzbu).
Seorang muslim dituntut memiliki sifat shidiq; dalam keadaan benar lahir maupun batin. Sifat shidiq yang utama dan harus dimiliki adalah Shidqul qalb, yaitu benar hati atau kejujuran hati nurani. Kejujuran hati nurani dapat dicapai jika hati dihiasi dengan iman kepada Allah SWT dan bersih dan segala macam penyakit hati. Sifat ini akan mencapai kematangannya apabila didukung dengan sifat ihsan.
Selanjutnya Shidqul hadits, yaitu benar atau jujur dalam ucapan dan perkataan. Seseorang dapat dikatakan jujur dalam perkataan apabila semua yang diucapkannya adalah suatu kebenaran bukan kebatilan. Di samping itu perlu ada Shidqul ‘amal, yaitu benar perbuatan atau beramal shaleh sesuai dengan syari’at Islam.
Sifat shidiq akan mengantarkan seseorang ke pintu gerbang kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Karenanya Rasulullah SAW. memerintahkan setiap muslim untuk bersikap shidiq dalam segala hal di antaranya dalam tiga hal di alas. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 177.
Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang sang telah jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebaqai seorarig yang jujur (shidiq). Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Oranq yang selalu berbohonq dan mencari-cari kebohongan, akan ditulis oleh Allah sebaqai pembohonq (kadzdzab)”. (HR. Bukhari)
Sifat shidiq adalah “tambang emas” dalam diri seseorang yang sangat berharga. Dan sifat inilah yang dijadikan standar kepercayaan orang lain kepadanya. Apabila seseorang telah kehilangan sifat shidiq, maka hilanglah arti dirinya, karena tiada yang mau mempercayainya.
Sikap ini pula yang amat diperlukan di dalam membangun bangsa dan negara Indonesia tercinta ini.
Allahu a‘lam bishawab