Sporty Magazine official website | Members area : Register | Sign in
assalamualaikum... maaf, blog ini telah pindah ke:http://samuderailmuagama.blogspot.com/
terima kasih
Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan

Ibrahim Musa : inyiak parabek

Senin, 28 Februari 2011

Syekh Ibrahim Musa Parabek lahir tanggal 12 Syawal 1301 H/1884 M di Desa Parabek . Banuhampu, Bukittinggi. Ayahnya bernama Syekh Muhammad Musa bin Abdul Malik Al Qarhawy, seorang Ulama yang terkenal di kampungnya Karatau, Parabek. Ibu Ibrahim bernama Ureh. Sejak kecil Ibrahim telah belajar Qur'an di bawah bimbingan ayahnya. Pada usia 13 tahun ia sudah Khatam Qur'an.

Pada usia yang masih muda itu juga beliau dilepas orang tuanya pergi mengaji ke Surau Tuanku Mato Aia Pakandangan Pariaman. Di sana beliau mempelajari Ilmu Nahwu dan Sharaf. Selanjutnya pindah ke Batu Taba di surau Tuanku Mato Angin, beliau belajar Fiqih . Kemudian ke Ladang Laweh mengaji dengan Tuanku Abdul Samad di surau Biaro Ampek Angkek. Juga beliau belajar dengan Syekh Jalaluddin Alkasai di Sungai Landai Banuhampu. Terakhir beliau belajar dengan Tuanku Abdul Hamid di Suliki Paya Kumbuh.

Dalam usia 19 tahun beliau berangkat ke Mekah untuk mendalami Ilmu agama bersama kakaknya Abdul Malik tepatnya di bulan Rajab th 1320 H/ 1901 M. Di Mekah beliau mengaji pada syekh Ahmad Khatib Al Minang Kabawy (1815 - 1915), yang menjadi imam masjidil haram dari mazhab Syafei. Beliau juga dibimbing oleh Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Ali Bin Husein, Syekh Mukhtar Al-Jawi dan Syekh Yusuf Al Hayat.

Sekembalinya beliau dari Mekah yang pertama tahun 1910 M beliau mengadakan pengajian secara halaqah di Parabek. Anak muda pun berdatangan ke Parabek ingin menuntut Ilmu kepada beliau, baik dari daerah - daerah di Minangkabau.

Pada tahun 1914 beliau pergi ke Mekah kali yang kedua untuk menambah Ilmunya bersama istri beliu Syarifah Ghani dan anak beliau Thaher Ibrahim. Beliau pulang ke Bukittinggi tahun 1916. Sementara kepergian beliau ke Mekah selama dua tahaun dua tahun itu, beliau mempercayakan pengajian di Parabek kepada murid - murid beliau .

Pada tahun 1918 beliau menyatukan murid - muridnya itu dalam satu organisasi diberi nama Muzakaratul Ikhwan dan terakhir diberi nama Jamiatul Ikhwan.

Akhirnya pada tahun dua puluhan, bersama sama dengan Dr. Syekh H. Abdul Karim Amarullah ( Inyiak De-er ), beliau sepakat mendirikan Sumatera Thawalib. Di Padang Panjang didirikan oleh Inyiak De-er, sedangkan di Parabek didirikan oleh beliau sendiri dan diubahlah organisasi pelajar Jamiatul Ikhwan menjadi Sumatera Thawalib .

Pada awal tahun 1926 membangun gedung Sumatera Thawalib Parabek 7 lokal. Sistim pendidikan yang dikembangkan oleh Syekh Ibrahim Musa menekankan kepada kemandirian murid - murid dalam berbagai lapangan kehidupan dan untuk menunjang proses pendidikan itu didirikanlah perpustakaan, koperasi, asrama , lapangan olah raga dan lainnya. Juga beliau tidak pernah menekankan pada muridnya untuk mengikuti mazhab Syafi'I. Beliau memberikan kebebasan pada murid - muridnya untuk memilih satu mazhab .

Profil Syekh Ibrahim Musa tercium oleh pihak kolonial beliau terus ditekan dan dicurigai ruang gerak oleh kolonial beliau ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia beliau adalah anggota pendiri Lasykar rakyat di Bukittinggi ( 1943 ) dan membentuk barisan Sabilillah ( 1946 ) menjadi Imam Jihad 1946.

Di bidang pemerintahan beliau adalah anggota majelis Syura Wal Fatwa Sumatera Tengah ( 1947 ) dan anggota korespondensi majelis pertimbangan kesehatan dan syarak kementrian kesehatan RI. Pada tahun 1956 beliau menjadi anggota konstituanti no 160. Tahun 1956, beliau merupakan ketua dewan Karatau dan dosen perguruan tinggi Darul Hikmah Bukittinggi dan Dewan Korator Universitas Andalas Padang.

Pada hari Kamis 20 Juli 1963 pukul 21.10 Wib. Syekh Ibrahim Musa berpulang ke rahmatullah di kamar depan rumah beliau di parabek dikebumikan besok harinya Jumat tanggal 26 Juli 1963 setelah shalat jumat seluruh kaum kerabat dan keluarga besar Sumatera thawalib Parabek melepas dengan duka cita yang mendalam.


Karya-Karya
Di tengah kesibukan mengajar dan kegiatan yang bersifat organisatoris serta kemasyarakatan, Inyiak Parabek menyempatkan diri untuk menulis. Tulisan beliau banyak diterbitkan oleh majalah-majalah terbitan Sumatera Barat kala itu, seperti majalah al-Munir, Al-Munir el-Manar, dan Majalah Bayan (di bawah bimbingan beliau sendiri). Juga ada karya dalam bentuk buku (kitab), sbb:

* Ijabah al-Sul, Dicetak pada tahun 1934 oleh percetakan Badezt di Padang Panjang. Ijabah al-Sul merupakan syarah (penjelasan) kitab Husnul al-Ma'mul, karangan M. Shiddiq Hasan Khan Bahadir, kitab Ushul Fiqh yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi sehingga untuk memahaminya diperlukan pengetahuan ushul fiqh yang baik.
* Hidayah as-Shibyan, Merupakan Kitab ilmu Balaghah. Dicetak oleh percetakan Baroe Fort de Kock, tidak dijelaskan tahun terbitnya. Kitab ini pernah diajarkan di Thawalib Parabek beberapa periode, sebelum diganti dengan kitab-kitab lain yang lebih ringkas dan lebih mudah dipelajari
* Hidayah Ditulis pada tahun 1912 dalam bahasa Minangkabau, kemudian dterjemahkan oleh murid Inyiak, Muchtar Said (sekarang adalah Pimpinan Madrasah). Berisikan ilmu tauhid aliran Ahlu Sunnah wal Jamaah.

Dr Eka Julianta Wahjoepramono, Dokter Pertama yang Mendapat Rekor MURI

Kamis, 03 Februari 2011



di kutip dari:http://wong168.wordpress.com/


Inilah dokter pertama yang mendapat rekor dari Museum Rekor Indonesia (Muri). Dokter Eka Julianta Wahjoepramono namanya, yang tercatat sebagai dokter pertama dan satu-satunya di Indonesia yang berhasil membedah batang otak pasien.

Sukses ini juga yang melambungkan namanya ke kancah internasional, dan disegani dokter-dokter bedah saraf dunia.

“Saat ini juga, Dokter Eka saya nyatakan dicatatkan di rekor Muri karena prestasinya berhasil membedah batang otak,” ujar pendiri Muri Jaya Suprana, saat peluncuran buku biografi Dr Eka berjudul Tinta Emas di Kanvas Dunia di Toko Buku Gramedia, Matraman, Jakarta Timur, Kamis (25/2).

Menurut Jaya Suprana, yang juga pemilik perusahaan Jamu Jago Indonesia, prestasi Dr Eka luar biasa. “Sepengetahuan saya, batang otak tidak boleh diutak-atik. Tabu. Saking tabunya, batang otak disebut urusan Tuhan. Kalau Dokter Eka menjadi bisa mengutak-atik batang otak, berarti Anda ini sudah bagian dari Tuhan,” kata Jaya, yang dikenal suka melawak.

Penulis buku Tinta Emas di Kanvas Dunia , Pitan Daslani, mengatakan, sudah mengecek se-Asia, sejauh ini baru Dr Eka yang pertama dan berhasil membedah batang otak.

Prestasi membedah otak berawal pada 20 Februari 2001, ketika Ardiansyah, warga Merak, Banten, datang dalam kondisi kritis. Buruh nelayan berusia sektiar 20 tahun saat itu datang dalam kondisi saraf-saraf lumpuh, kaki dan tangan lumpuh, mata pun melotot, napas tersengal-sengal. Setelah didiagnosa, Ardiansyah ini terkena tumor kavernoma yang telah pecah di pons atau batang otak.

“Saat itu, dokter di dunia termasuk dokter bedah saraf pun belum berani mengutak-atik batang otak, karena kalau salah sedikit pasti mati atau lumpuh. Tapi karena pilihannya mati atau hidup, saya beranikan diri membedah batang otak Pak Ardiansyah ini,” ujar Dr Eka sambil menunjuk Ardiansyah yang berdiri di sampingnya.

Ardiansyah seorang yatim piatu. Saat itu dia datang diantar seorang kakaknya. Dalam peluncuran buku kemarin, dia memberi kesaksian. “Saya sudah pasrah karena sakitnya. Alhamdulillah, dr Eka ini dapat merawat. Saya ucapkan terima kasih,” ujar Ardiansyah.

Selain Ardiansyah, ada lagi pasien miskin lainnya, yakni Jumiati. Mahmud, suaminya, kepala sekolah swasta di Cengkareng, Jakarta Barat, yang untuk memenuhi kebutuhan keuangan keluarga, bekerja sambilan sebagai pemulung sampah. Operasi Ardiansyah dan Jumiati dilayani dr Eka secara cuma-cuma di RS Siloam.

Bedah buku dipandu presenter Kick Andi, Andi F Noya dengan pembicara Dr Eka, pendiri Museum Rekor Indonesia (Muri) Jaya Suprana, dan penulis buku Pitan Daslani. Sejumlah pasien yang berhasil diselamatkan hadir dan memberi kesaksian, keluarga mantan pasien yang gagal operasi dan meninggal pun tetap memuji karya dokter Eka.

Pasien lainnya, anggota TNI Angkatan Udara, Kolonel Budi Laksono yang mengungkapkan saluta akan keberhasilan dr Eka memulihkan kondisi kesehatannya dari serangan stroke. “Saya sudah 10 tahun menderita stroke. Dulu saya pilot TNI AU untuk pesawat Falcon-15 (F-15) dan F-16, dan Hercules. Walau tidak bisa lagi bermain-main di udara, saya bersyukur karena bisa aktif di TNI AU sebai staf,” ujar Budi.

Pujian lainnya dikemukakan Ny Lana Sarwono, janda Sarwono yang gagal dalam operasi kedua. “Semula saya mengalami pergulatan batin, mengapa dr Eka gagal menyelamatkan suami saya. Tetapi akhirnya saya dapat menerima, inilah takdir dari Tuhan dan saya mengikhlaskan suami saya pergi,” kata Lana, sebelum menerima buku biografi dr Eka.

Lana melanjutkan, di balik kegagalan operasi otak suaminya, masih ada hikmah. “Saya berharap kiranya Dokter Eka dapat menyelamatkan lebih banyak lagi, ratusan bahkan ribuan orang penderita otak.”

Sumber: http://klipberita.com/klip-news/6715-dokter-eka-dapat-rekor-muri.html